Sabtu, 24 November 2012

Kaldi, Kambing dan Kopi

www.coffee-machine.org
KALDI heran bukan kepalang saat melihat kambing-kambing gembalaanya bertingkah seperti orang mabuk. Gelisah namun tampak riang. Meloncat-loncat seperti menari-nari kendati tanpa irama.

"Hei, apa yang terjadi?"


Rupanya, kambing-kambing tersebut memakan biji merah mengkilap dari suatu pohon. Dampaknya, masih terlihat jelang tengah malam tiba. Sang Penggembala ini, jadi lebih penasaran. Ia tak sabar untuk mencoba biji merah tersebut.


Akhirnya, rasa penasarnya terbalaskan. Bukan main akibat yang dirasakan oleh orang Ethiopia ini setelah makan biji tersebut. Dia merasakan kesegaran dan hati menjadi riang. Dia pun menari-nari gembira.


Demikian sebuah kisah yang melegenda tentang penemuan kopi. Cerita yang konon terjadi di sebuah negeri di Benua Afrika di abad ke-3. Hingga kemudian, kopi menjadi minuman,-yang katanya-, paling banyak dikonsumsi warga dunia setelah air.


Namun, masih banyak kisah unik dari kopi. Minuman kopi pernah menjadi barang haram di Mekah, Arab Saudi, hampir selama 13 tahun sejak tahun 1511 hingga 1524. Delapan tahun kemudian, giliran warung kopi dan gudang kopi di Mesir harus gulung tikar setelah larangan menjualbelikannya.


Bukan hanya penguasa dan ulama-ulama di belahan Arab yang mengharamkan kopi, pendeta-pendeta di Italia pun sempat menganggap barang tersebut termasuk bid'ah. Wasangka para padri ini adalah, kopi senggaja dimasukkan sultan-sultan dari negeri muslim untuk menggantikan anggur.


Nyata sekarang di Indonesia adalah semakin banyak gerai kopi waralaba di kota-kota besar. Pun warung-warung kopi tak pernah kehabisan pengunjung. Iklan-iklan kopi instan pun tak pernah sepi di televisi.

***

Terminal pedati tersebut kini tetap riuh setiap harinya, kendati tak terdengar lagi suara roda atau tipak-tipuk tapal kuda beradu dengan jalan. Kini tempat tersebut menjadi tempat minum kopi terbesar di Manado. Orang-orang menyebutnya Jarod atau Jalan Roda.


Cukup membayar setengah cangkir kopi yang dipesan kali pertama, namun Anda bisa menikmati kopi berulang-ulang. Tinggal minta air panas kembali untuk mengisi ulang cangkir gelas. Namun, bukan hanya itu saja yang membuat orang betah minum kopi di Jarod.


Ada yang menyebut tempat tersebut parlemen jalanan. Bagi yang suka masalah politik, di sinilah tempat adu diskusi sampai berdebat. Masalah pemerintahan pun bisa dibahas di lokasi yang berada di pusat kota tersebut. Siapa pun bisa mengeluarkan gagasan dan ide.


Entah mengapa hal tersebut bisa terjadi. Karena dampak kopinya atau sekedar pemenuhan kebutuhan untuk bersama. Atau demi sebuah keberdaan dan pengakuan terhadap pemikiran. Mungkin...

*** 

Malam itu, Uyo demikian pria bernama lengkap Maryono Anau biasa disapa, harus menuruti permintaan Udin Mandar. Sederhana, dia harus berjalan dari arah kantornya melewati sekitar bangunan. 

"Inilah yang akan menjadi tempat warung kopi itu," ujar Udin kepada Uyo sesampainya ke tempat yang dituju.

Tepat seminggu setelah perayaan tahun baru 2012, Udin membuka warung kopi di Jalan KS Tubun Sinindian. Warung tersebut dia beri nama Jarod. Nama tersebut meminjam tempat minum kopi di Manado. Cita rasa kopi di jarod tetap dipertahankan.

Selama dua pekan pertama sejak dibuka menjadi ujian bagi Udin. "Hanya dua orang saja yang biasa minum kopi selama dua minggu itu. Saya dan Uyo," kata dia.

Namun peruntungannya berubah pada pekan ketiga. Warkop Jarod mulai didatangi para peminum dan penikmat kopi. Bahkan, yang tidak suka minum kopi bisa berkumpul untuk sekedar ngobrol atau kongko-kongko.

Mari menikmati kopi...!


sumber sebagian diambil dari www.direken.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar