Jumat, 14 Desember 2012

Saat Empat Kepala Daerah Bolmong Ngopi

Apa yang dibicarakan ketika empat kepala daerah di Bolaang Mongondow (Bolmong) Raya bertemu? Ternyata mereka tak hanya berbicara tentang politik dan pemerintahan, namun juga terselip canda dan hal-hal konyol yang mereka alami.
saya dan empat kepala daerah

Kendaraan pasukan pengawalan (Patwal) Bupati Bolmong tersebut berjalan perlahan saat melintas di depan warung kopi saya yang berada di Jalan KS Tubun Sinindian, Senin (10/12/2012) sore itu. Di belakang kendaraan tersebut tampak sedan Toyota Camry bernomorpolisi DB 1 D berhenti tepat di depan warung.

Saya sempat kaget ketika pria bertubuh tinggi tegap berpakaian putih tersebut melewati pintu warung. Salihi Mokodongan, demikian nama lengkap Bupati Bolmong tersebut, kemudian menjabat tangan saya. Ada rasa senang dan bangga. Bagi saya, tak semua orang berkesempatan berjabat tangan seorang kepala daerah.

Dia kemudian mengambil duduk di kursi panjang yang saya tempatkan di salah satu penjuru warung saya. Saya kemudian menyajikan kopi susu sesuai dengan permintaan sang ajudan Bupati. Di sinilah saya menemukan sosok yang sederhana. Dengan ringan dia berkata tak usah membersihkan meja saat saya akan menyajikan kopi susu.

"Tak usah dibersihkan. Kita ini orang pantai, ko," kata bupati bagi 200 ribu lebih jiwa tersebut kemudian menyesap rokoknya. Setelah itu dia terlibat pembicaraan dengan beberapa orang. Pembicaraan tampak serius namun dia tetap terlihat santai.

Suasana kemudian bertambah ramai. Bupati Bolmong Timur (Boltim) Sehan Landjar yang memang sudah biasa datang ke warung saya tiba. Pria berkumis tebal ini pun duduk berdampingan dalam kursi yang sama dengan Salihi. Mereka pun tampak berbicara akrab. Apalagi pembawaan Bupati Boltim yang memang ceria membuat suasana menjadi lebih hidup.

Kemudian berturut-turut, datang Wakil Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara dan Wakil Bupati Bolmong Yanny Tuuk. Wakil Wali Kota memang biasa pesan kopi melalui anak buahnya. Sedangkan Wakil Bupati Bolmong sempat beberapa kali datang ke warung kopi saya. Sayangnya, Wakil Bupati tak bisa lama-lama karena harus ke dokter.

Ternyata, saat para kepala daerah tersebut bertemu, tak melulu bicara tentang pemerintahan atau politik. Mereka kadang bercanda atau menertawakan tingkah laku konyol mereka. Apalagi bagi Bupati Boltim yang memang kuat berbincang. Saya kadang ikut tersenyum dengan pembicaraan mereka.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam. Mereka kemudian pulang setelah Magrib menjelang. Bagi saya, ada kebanggan para pimpinan daerah itu,-juga Wali Kota Kotamobagu Djelantik Mokodompit yang beberapa kali-, duduk, ngopi dan bersantai di warung yang memang jauh dari mewah. Bahkan, warung saya dapat dikatakan sangat sederhana.

Kopi Kotamobagu tak Kalah dengan Torabika

Kopi asal daerah Kotamobagu tak kalah dengan kopi dari daerah lainya. Sayangnya, belum banyak yang mengenal dari daerah tersebut terdapat kopi yang enak. Padahal, kopi ini bisa menjadi ikon dan trade mark bagi kota kecil tersebut.

Saya sedikit terkejut saat seorang pelanggan warung kopi saya tak mengetahui kalau di Kotamobagu ada daerah yang memroduksi kopi. Padahal, warung-warung kopi yang ada di Manado pun kebanyakan mengandalkan kopi dari Kotamobagu.

Kopi Kotamobagu tak kalah dengan kopi-kopi dari daerah lainya, seperti Torabika dari Makassar. Kopi Kotamobagu memang terasa lebih ringan dibandingkan dengan Torabika. Namun justru itu kelebihanya. Kopi ini bisa berpotensi dinikmati oleh siapa pun.

Namun tentu saja, perlu usaha agar lebih banyak lagi yang bisa menikmati kopi ini. Yang pertama adalah membuat warga Kotamobagu atau Bolmong sadar jika ada potensi, yakni kopi yang nikmat di Kotamobagu. Setelah itu, membuat orang Kotamobagu bangga bisa minum kopi dari daerah sendiri.

Selanjutnya, saya kira, adalah memperluas jangkauan penikmat kopi Kotamobagu. Orang Kotamobagu atau Mongondow tak malu-malu untuk membawa kopi menjadi ole-ole jika keluar daerah. Memperkenalkan kopi Kotamobagu.

Tentu saja, perlu dorongan juga dari pemerintah setempat. Dorongan tersebut untuk membantu para petani kopi agar tidak segan untuk menanam dan memelihara kopi sehingga menghasilkan panen yang baik. Selanjutnya adalah menyiapkan pasar yang bagus.

Intinya adalah bagaimana manajemen pertanian dan pemasaran kopi. Hal tersebut memang tidak bisa dilakukan oleh satu pemerintah daerah saja. Ini lantaran, pertanian kopi lebih banyak berada di daerah Purworejo dan Liberia, Modayag, Kebupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Semoga kopi Kotamobagu tidah hanya jadi tuan di tanahnya sendiri tapi juga dirasakan lebih banyak orang lagi. Semoga!

Sabtu, 08 Desember 2012

Saat Gajah dan Luwak Bersaing Bikin Kopi Mahal


Maukah Anda mengeluarkan uang 1.100 dolar AS atau sekitar Rp 10 juta hanya untuk membeli satu kilogram kopi yang 'dipanen' dari kotoran gajah?
foto AP

Ya, bukan hanya badanya saja yang besar, gajah ternyata bisa 'menghasilkan' kopi yang harganya selangit. Harga kopi gajah tersebut kini mulai menggeser harga kopi luwak yang konon sebelumya disebut kopi termahal di dunia. Kopi luwak dihargai 100-600 dollar AS per pound (sekitar 0.45 kg). Bandingkan dengan harga kopi gajah yang mencapai 1.100 dollar AS per kilogram.

Apa yang membuat kopi gajah atau yang mempunyai nama komersil black ivory caffee itu mahal? Proses untuk mendapatkan kopi gajah ini hampir sama dengan kopi luwak. Gajah diberi makan biji kopi. Setelah biji kopi itu dicerna dan dikeluarkan melalui kotoran gajah, para petani 'memanen' kopi tersebut. Setelah itu kopi dibersihkan, dan diproses menjadi kopi giling.

Penelitian menunjukkan bahwa selama proses pencernaan, enzim gajah memecah protein kopi. Protein merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi kepahitan kopi. Semakin berkurang proteinnya, kopi pun akan berkurang kepahitanya. 

Proses 'pembuatan' kopi gajah ini berlangsung di perbukitan yang subur di utara Thailand. Di pegunungan berkabut di segi tiga emas antara Thailand, Laos dan Burma yang terkenal dengan tempat pembuatan obat-obatan yang manjur. 

Adalah Blake Dinkin investor asal Kanada yang mengembangkan kopi gajah ini. Dia mengaku telah mengeluarkan duit 300 ribu dolar AS untuk mengembangkan kopi gajah ini. Dinkin bekerja dengan seorang dokter hewan untuk memastikan gajah-gajah ini tidak menyerap kafein dari buah kopi yang dikonsumsinya. 

Ditanya mengapa begitu mahal harga kopi buatannya, Dinkin mengatakan sambil berseloroh gajah adalah pekerja yang sangat tidak efisien. Dibutuhkan 33 kilogram biji kopi mentah untuk memproduksi satu kilogram kopi black ivory. "Mayoritas kopi yang masuk ke perutnya telah rusak atau hilang setelah dikeluarkan. Beda dengan luwak," ujarnya. 

Namun bukan hanya gajah dan luwak saja binatang yang bisa membantu proses pembuatan 'minuman'. Rusa dan kelelawar juga ternyata bisa membantu 'membuat' kopi melalui kotoranya. Kabarnya, seorang pengusaha Cina mengumumkan akan menjual teh hijau organik yang dihasilkan dari kotoran panda. Berapa harga teh panda itu?  200 dollar AS secangkir! (huffingtonpost/usatoday/warkop)