Meminjam singkatan Jalan Roda,
yakni Jarod, warung kopi yang berada di Sinindian, Kotamobagu ini terus
berkembang. Dari hanya melayani dua orang, kini Udin Mandar, pemilik Warung Kopi, juga kerap
melayani beberapa kepala daerah di Bolmong Raya yang ngopi di kedainya.
 |
| Tulisan Warkop Jarod di Tribun Mando, 19 Okt 2012 |
|
HAMPIR dua minggu penuh sejak Warung Kopi Jarod dibuka, Udin Mandar
tak melayani tamu satu pun. Hatinya mulai gamang dengan usaha yang
dirintisnya sejak tanggal 7 Januari 2012 itu. "Hanya dua orang saja yang
biasa minum kopi selama dua minggu itu. Saya
dan teman saya, Uyo," kata dia mengenang kejadian 11 bulan lalu.
Menginjak pekan ketiga, peruntungan pria kelahiran Gotowasi, Halmahera
Timur, 47 tahun silam ini berubah. "Awalnya beberapa wartawan datang
minum pagi-pagi sebelum liputan. Mereka kemudian datang di hari-hari
berikutnya kendati saat itu tidak datang setiap harinya," kata Udin yang
kemudian biasa disapa Aba oleh teman-teman barunya.
Dia pun menangkap peluang dengan memasang wi-fi. Jaringan internet
tersebut untuk mempermudah para pekerja media tersebut untuk mengirim
berita ke kantornya masing-masing. Triknya berhasil. Setiap sore, para
wartawan tersebut menjadi pelanggan minuman kopi
di warungnya.
Aba pun tidak hanya menawarkan kopi saja. Dia
juga mulai menawarkan makanan-makanan lainya seperti kue-kue atau
kacang. "Makanan tersebut yang nitip saja. Tapi saya juga melengkapi
dengan mie rebus dan roti bakar. Dua menu sederhana itu memang saya
sediakan," ujar dia.
Kemudian beberapa komunitas lainya pun mulai kerap nongkrong di kedai kopi Aba Udin. "Kalau pagi biasanya para sales dan
karyawan di beberapa perusahaan yang bekerja di lapangan. Bahkan
penggemar klub sepakbola yang kebanyakan anak-anak muda juga sering
nongkrong," ujar ayah tiga anak ini menambahkan.
Dia mengatakan tidak ada promo. Namun dari justru, informasi dari mulut
ke mulut lebih efektif. Suami dari Rosnani Mamonto ini menyebutkan,
hampir setiap hari, selalu ada muka baru yang datang ke warungnya. Dan,
kabar adanya warung kopi
ini sampai juga ke telinga para kepala daerah di Bolaang Mongondow
(Bolmong).
Kepala daerah yang pertama datang ke Warung Kopi Jarod adalah Wakil
Bupati Bolmong Yanni R Tuuk. Di hari lain, muncul Bupati Bolmong Timur
Sehan Landjar. Wakil Sehan, Medy Lensun kemudian menyusul. Wali Kota
Kotamobagu Djelantik Mokodompit pun menyempatkan datang di waktu lain.
Dan, Wakil Wali Kotamobagu Tatong Bara juga tak ketinggalan.
 |
| Bupati Boltim Sehan Landjar ngobrol sampai pagi | |
Namun di antara para kepala daerah tersebut, Sehan Landjar merupakan
bupati yang paling kerap datang. "Bahkan pak Bupati Boltim itu sempat
berbincang-bincang sampai jam 4 pagi. Sementara bu Wawali (Tatong Bara)
setiap ada kesempatan selalu pesan kopi di sini.
Bu Wawali biasanya menyuruh orang," tambah Aba Udin.
Tak aneh, jika dulu dia hanya melayani dua cangkir kopi
untuk dirinya dan temanya, kini dalam sehari Aba Udin bisa melayani
rata-rata 80 cangkir kopi. Dia menghabiskan
rata-rata satu kilogram kopi dan 10 kaleng susu.
"Pernah dalam sehari habis 20 kaleng susu dan beberapa kilogram kopi," ujar pria yang kini tinggal Poyowa ini.
Kopi
yang dipakai berasal dari Kotamobagu. Hanya
saja, dalam pengolahanya, dia biasa memakai jasa penggilingan di
Manado. Selain menjaga kualitas, biaya penggilingan di Manado lebih
murah. "Penggilingan di Kotamobagu lebih mahal, makanya saya biasa titip
teman di Manado," kata dia.
Aba Udin mengatakan ada dua tipe yang pelanggan yang datang ke
tempatnya, yakni peminum dan peminum kopi. Dia
mendefinisikan peminum kopi adalah orang yang
cepat-cepat minum kopi. Sementara penikmat kopi lebih perlahan menandaskan kopinya. Dia
optimistis peminum dan penikmat kopi di
Kotamobagu akan semakin meningkat.
Selain itu, dia memperhatikan pula kalau penikmat dan peminum kopi di Kotamobagu tidak terlalu suka manis. "Beda
kalau saya perhatikan, di sini memang tidak lebih suka kopinya lebih
terasa. Itu beda dengan di Manado," kata pria yang mengaku sempat
menjadi tukang parkir di Manado ini.
Aba Udin menjelaskan untuk kepekatan rasa tersebut ada beberapa hal yang
mempengaruhi. Selain campuran susu krim, juga tarikan saat menyeduh kopi. Semakin panjang getel atau tempat kopi dengan gelas saat menyeduh air. Untuk membuat kopiwarung-warung kopi
di Jalan Roda Manado. tersebut, Aba Udin pun belajar di
"Saya ingin agar cita rasa tersebut tetap terjaga di warung
kopi saya. Apalagi nama warungJarod. Ini yang jadi alasan juga
menamakan nama warung kopi
ini Jarod. Agar orang yang suka minum dan
menikmati kopi tertarik," kata dia menjelaskan
penamaan warungnya. (edi sukasah)
Sumber Tribun Manado, 19 Oktober 2012 hal 1