Kopi asal daerah Kotamobagu tak kalah dengan kopi dari daerah lainya. Sayangnya, belum banyak yang mengenal dari daerah tersebut terdapat kopi yang enak. Padahal, kopi ini bisa menjadi ikon dan trade mark bagi kota kecil tersebut.
Saya sedikit terkejut saat seorang pelanggan warung kopi saya tak mengetahui kalau di Kotamobagu ada daerah yang memroduksi kopi. Padahal, warung-warung kopi yang ada di Manado pun kebanyakan mengandalkan kopi dari Kotamobagu.
Kopi Kotamobagu tak kalah dengan kopi-kopi dari daerah lainya, seperti Torabika dari Makassar. Kopi Kotamobagu memang terasa lebih ringan dibandingkan dengan Torabika. Namun justru itu kelebihanya. Kopi ini bisa berpotensi dinikmati oleh siapa pun.
Namun tentu saja, perlu usaha agar lebih banyak lagi yang bisa menikmati kopi ini. Yang pertama adalah membuat warga Kotamobagu atau Bolmong sadar jika ada potensi, yakni kopi yang nikmat di Kotamobagu. Setelah itu, membuat orang Kotamobagu bangga bisa minum kopi dari daerah sendiri.
Selanjutnya, saya kira, adalah memperluas jangkauan penikmat kopi Kotamobagu. Orang Kotamobagu atau Mongondow tak malu-malu untuk membawa kopi menjadi ole-ole jika keluar daerah. Memperkenalkan kopi Kotamobagu.
Tentu saja, perlu dorongan juga dari pemerintah setempat. Dorongan tersebut untuk membantu para petani kopi agar tidak segan untuk menanam dan memelihara kopi sehingga menghasilkan panen yang baik. Selanjutnya adalah menyiapkan pasar yang bagus.
Intinya adalah bagaimana manajemen pertanian dan pemasaran kopi. Hal tersebut memang tidak bisa dilakukan oleh satu pemerintah daerah saja. Ini lantaran, pertanian kopi lebih banyak berada di daerah Purworejo dan Liberia, Modayag, Kebupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Semoga kopi Kotamobagu tidah hanya jadi tuan di tanahnya sendiri tapi juga dirasakan lebih banyak orang lagi. Semoga!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar